Thursday, April 28, 2011

Being A Child Means Freedom

Once again, my journey on the train gives me an unbelievably great experience. Thank God I am now used to take that public transportation. I can learn a lot.

Today, I saw two children, the first one was when I was on the train, the other was at Kalibata Train Station. I do not know the reason, but recently I have been very interested in children, unlike my high school time when I never care about them.

The first child was still very small, I can tell from his posture that he hasn't even been able to walk. He was looking at my plastic-cup of tea which has many ice blocks in it. I think, he found that the cup was interesting. He kept looking at it, then I tried to grab the cup, and move it up-down. His pupils followed the movement of the cup, extremely cute. His face is very cute too, fyi. Then I stopped moving it when it was very close to my face, then I made some funny (or scary) expressions, hoping he would be entertained. Yes, he laughed. And I was super glad. I rarely do this kind of stuffs to children, you know? For ages, I'm pretty sure :P

The second one was bigger, maybe about 3 years old because he could stand by his own. His face was very unique, with that kind of Arabic or middle-east face. White skin, sharp nose, big eyes, and thick eyebrows. I believe he will be pretty handsome in near future, haha. I didn't do any interaction with this child, but I find it funny when I saw him pulling his daddy's hand, making sure that his dad didn't go into the train. His face looked terribly scared, I think he's afraid of train or something. And his dad was yelling, "Oh c'mon, the train will leave in no time, we gotta hurry." with some slight laughter because he knows his son did something silly. In the end, they couldn't catch the train up, of course they were out of time. But still, they look very cute, especially the boy :)

Being a child means freedom. Yes, you can express anything you want straight-away, without being troubled of what people will judge about you. Anything. Because you never think of other people. You just want to become your very self, telling others how you feel. That's just utterly great, isn't it? 

Wednesday, April 27, 2011

Irreplaceable Memories.

Tiga tahun yang lalu.

"You'll be in my heart,
yes you'll be in my heart,
from this day on, now, and forever more.
You'll be in my heart,
no matter what they say.
You'll be here in my heart, always."

Setiap mendengar lagu itu, saya teringat dengan saudara-saudara saya, keluarga besar Sains dan Perpustakaan angkatan 44. Sungguh, empat puluh tiga orang ini, adalah orang-orang yang amat berarti dalam kehidupan saya ini. Pertama kalinya saya dikenalkan dengan sebuah organisasi, ikatan kekeluargan yang luar biasa inilah yang saya dapatkan. 

Kami telah melewati banyak hal bersama, mulai dari forum pertama di ruang kelas XI IPA F, hingga malam kekeluargaan sekaligus hari pelantikan kami menjadi anggota SP 44 di rumah Ketua kami, Muhammad Fikri, di Tanjung Barat. Selama proses itu kami melewati banyak tugas, diklat, hingga obrolan tak penting yang mengharuskan kami pulang maghrib dari kos-kosan dekat sekolah, datang ke SMA 8 tercinta setiap hari bahkan ketika libur dua minggu, dan banyak lagi. Saya ingat, dulu, setiap pulang sekolah, walaupun tidak ada kegiatan yang mengharuskan, kami akan mengobrol di depan masjid Darul Irfan, bercanda, tertawa terbahak-bahak, bahkan membuat silsilah keluarga dan peta kompleks keluarga kami. Indah sekali rasanya.

Di SP, saya belajar banyak hal, bagaimana sakitnya ketika ketua angkatan kami dilecehkan di depan forum, ketika tugas kami dianggap tidak berhasil, ketika jumlah kami tidak mencapai komitmen. Kami belajar bagaimana indahnya saling membantu, menyemangati saudara kami yang lain, bagaimana setiap orang adalah elemen penting yang tidak dapat kami abaikan dalam keluarga ini. Belajar bahwa hidup harus diperjuangkan. Saya masih ingat, kami semua menangis, ketika akhirnya berhasil menjadi anggota organisasi ini.


Satu tahun yang lalu.

"Sebiru hari ini, birunya bagai langit terang benderang.
Sebiru hari kita, bersama disini.
Seindah hari ini, indahnya bak permadani taman surga.
Seindah hati kita, walau kita kan terpisah.
Bukankah hati kita telah lama menyatu, delam tali kisah persahabatan Ilahi?
Pegang erat tangan kita terakhir kalinya, hapus airmata meski kita kan terpisah.
Selamat jalan teman, tetaplah berjuang, semoga kita bertemu kembali.
Kenang masa indah kita, sebiru hari ini."

Lagu ini selalu mengingatkan saya pada keluarga yang selanjutnya, sebuah keluarga yang berada di bawah besarnya ukhuwah Mabit Nurul Fikri. Di sini saya mengenal banyak orang, banyak karakter, bukan hanya karakter tipikal yang saya temukan di SMA. Di sini saya belajar bagaimana berjuang bersama, dengan usaha dan ibadah. Bukan hanya saya belajar ilmu dunia, disini saya mendapatkan ajaran Islami yang akan selalu saya syukuri.

Di Mabit ini, berbeda dengan tempat belajar lainnya, kompetisi yang kami lakukan sangatlah sehat. Adalah sangat membahagiakan ketika kami dapat meloloskan teman kami yang lain, membantu mereka lulus snmptn, simak, dan ujian lainnya. Disinilah saya belajar untuk terus tegar, berusaha maksimal, dan selalu peduli pada orang lain.

Ukhuwah yang saya dapatkan tidak kalah indah, dibalut dengan indahnya persaudaraan dalam Islam. Banyak hal yang menyenangkan, mulai dari pelajaran-pelajaran yang sangat menyenangkan tiap Sabtu-Minggu, serunya road-show Fusion 2, pembukaan mabit intensif yang diwarnai dengan keceriaan Ganas, hingga stase Mabit Intensif yang sangat luar biasa. Tangisan pun banyak kami dengar, setiap SKU, ketika kami membuka pengumuman SIMAK bersama, ketika kami mendengar adanya saudara seperjuangan kami yang tidak lulus ujian, dan ketika kami tahu kedakatan ini tidak akan berlangsung selamanya.

"Don't cry because it ended, smile because it happened"
Terima kasih ya Allah, lagi-lagi saya diingatkan betapa saya sangat mensyukuri semuanya :)

Wednesday, April 20, 2011

Aku dan Desa Binaan

Aku Asriana Syarifa Septari. Dia Desa Binaan FEUI. Awalnya kami belum saling mengenal, dan aku tidak pernah tertarik padanya. Bahkan mendengar frase “kegiatan organisasi” saja sudah membuatku mual. Yah, mau bagaimana lagi. Dulu semasa SMA aku sudah bisa dibilang cukup aktif mengikuti kegiatan ini-itu. Tidak terlalu banyak juga sih, tapi rasanya ingin sekali menikmati masa perkuliahan dengan bersantai. Entahlah, sepertinya takdir yang mempertemukan kami.

Suatu hari di sebuah ruang luas bernama Auditorium FEUI, aku mendengar namanya, Desa Binaan FEUI. Seperti yang aku bilang, tidak tertarik sama sekali. Tapi aku punya satu senior yang gencar mempromosikan kegiatan yang satu ini. Katanya seru, menyenangkan, dan apalah banyak sekali kata-kata indah lainnya. Aku tetap tidak tertarik.

Dari sekian banyak peluang kepanitiaan yang disediakan oleh kampusku, aku tidak memilih satu pun. Setelah beberapa teman mulai sibuk berurusan dengan kegiatannya, barulah keinginan berorganisasi itu kembali timbul. Aku iri, ingin sibuk juga. Akhirnya teringat bahwa seniorku pernah bilang sesuatu tentang Desa Binaan FEUI. Wah boleh juga dicoba, untungnya kesempatan masih terbuka.

Ketika dihadapkan pada banyak pilihan divisi, aku tertarik sekali dengan yang namanya Kreatif. Seksi acara, benar-benar bidangku, kupikir. Akhirnya aku pun mendaftar di bagian itu. Pilihan kedua yang tersedia di kertas pendaftaran masih kosong, bingung rasanya karena aku tidak tertarik pada bidang yang lain. “Public Relation”, suatu istilah cita-citaku semasa SMP dulu. Bidang komunikasi. Sepertinya menarik juga, kutulislah “Public Relation” di ruang yang kosong tadi.

Mulailah ku kumpulkan berkas-berkas yang diperlukan, kubuat CV sebaik mungkin. Maklum, ini kepanitiaan pertamaku di bangku kuliah. Ketika tiba saat wawancara, aku belajar banyak tentang apa yang bisa ku lakukan di kepanitiaan ini. Selama wawancara itu berlangsung, aku mulai merasa sepertinya asik juga untuk lebih berkontribusi di bidang hubungan masyarakat, akhirnya kuubah haluanku, Public Relation menjadi pilihan pertama.

Suatu malam, sebuah pesan singkat sampai di telepon genggamku. Isinya tidak begitu kuingat, yang jelas ada kalimat mutiara dari seorang pelaku sejarah, Sukarno kalau tidak salah. Isinya mengenai pergerakan pemuda, kalau tidak salah ingat lagi. Kemudian dikatakan bahwa aku diterima sebagai staf Public Relation. Wah, untunglah. Aku bersyukur walaupun sebenarnya aku tidak kaget. Tapi ya, aku merasa senang.

Rapat pleno pertama, foto divisi pertama, pengalaman menjadi MC pertama kali di bangku kuliah, desain pertama, dan segalanya yang lain akhirnya kualami. Teman-teman yang kukenal di sebuah ruangan di Gedung B FEUI itu pun lama-kelamaan menjadi sangat dekat denganku.

“Nama saya Asriana Syarifa Septari, biasa dipanggil… TARI”                                                                   

Iya, itu perkenalan pertamaku dengan sahabat-sahabat ini.

Perjalanan setelah itu cukup panjang, dan ternyata apa yang dikatakan seniorku bukan cuma rayuan gombal yang biasa didengar dari abang-abang tukang ojek, karena memang benar Desa Binaan FEUI itu seru, menyenangkan, dan apalah banyak sekali kata-kata indah lainnya.

Aku menemukan teman-teman dan senior-senior yang menjadi keluarga pertamaku di bangku kuliah.

Oke, mungkin kalian sudah cukup muak dengan kata “keluarga” ini. Tapi aku tidak bohong. Kuakui, tidak semua bagian dari kami bisa bersatu, menjadi benar-benar kokoh. Kemungkinannya kecil sekali untuk bisa seperti itu. Tidak ada yang bisa disalahkan. Karena menurutku, yang menentukan seberapa dekatnya kita dengan keluarga baru kita tergantung dari seberapa jauh kita ingin terlibat dalam keluarga tersebut. Dengan berkontribusi besar, ikatan yang didapatkan pun semakin kuat. Kira-kira begitulah.

Terlibat dalam keluarga ini menyenangkan sekali. Walaupun menyita cukup banyak waktu dan tenaga, rasanya senang bisa bekerja sama dengan orang-orang yang menyenangkan, bertemu orang-orang baru di Kelurahan Rangkepan Jaya, dan merasakan pengalaman-pengalaman lainnya.

Itulah mengapa ingin rasanya aku melanjutkan perjuangan ini. Sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui. Dengan kembali berkontribusi, aku bisa mengabdi pada masyarakat, mendapatkan keluarga lagi, dan yang terpenting, merasakan pengalaman-pengalaman yang berarti. Experience is the best teacher. Begitulah kira-kira yang sering kubaca di buku tulis lamaku. Aku ingin diajarkan oleh pengalaman.

Makanya aku disini, untuk merajut lagi pengalamanku bersama kalian dan keluarga baruku.

Untuk keluarga pertamaku, walaupun sebentar lagi kita akan dibubarkan, aku yakin ini bukan perpisahan. Masih ada Grup Keluarga Desa Binaan FEUI di Facebook, jadi tenang saja.







“I will treasure all the memories carved from that trail behind, and welcome this new start as a beginning of another journey.”

Asriana Syarifa Septari
Jakarta, 30 Maret 2011