Wednesday, October 17, 2012

Menjadi Seorang Muslim di Jepang

Assalamualaikum wr. wb.

Lalala, judul dari post ini amat sangat membosankan tapi biarlah, haha. Sebenernya mau sharing aja sih tentang bagaimana rasanya menjadi kaum minoritas (yakni muslim) di negeri orang (eeaaa).

Sejujurnya, seru sih. Kadang kalau di jalanan suka diliatin (jarang sih, tapi kadang tetep aja banyak yang bingung dengan penampilan muslimah berkerudung, haha). Terus sangat menantang juga. Hal yang menantang adalah karena di Jepang ini mayoritas makanan mengandung babi atau mirin (semacam alkohol), yang tentunya tidak bisa dimakan oleh orang muslim. Untungnya di sini ada perkumpulan orang muslim Indonesia, dan ada banyak senior Indonesia yang muslim, sehingga gue bisa tanya-tanya ke mereka perihal restoran mana aja yang halal, menu apa aja yang halal, makanan apa aja yang halal, dsb. Ohiya, buat yang punya gadget Apple, ada aplikasi bagus, judulnya "Hara--ru" (ditulis dalam katakana) yang berisi list makanan halal yang tersedia di Jepang. Ketik saja "Halal Japan" di AppStore, nanti akan muncul aplikasinya :D

Terus seringkali ada ajakan teman atau party invitation untuk pergi minum-minum atau clubbing. Sejujurnya, gue sih di sini sempat nyobain keduanya, hahaha. Cuma pengen tahu aja sih, sepertinya habis ini nggak ikutan lagi, wakakak. Tapi emang pinter-pinternya kita aja untuk menjaga diri dan nggak terbawa arus pergaulan. Ohiya, bukan cuma itu loh, kadang party 'biasa' pun perlu diwaspadai karena belum tentu makanan yang tersedia itu halal. Alhasil kita jadi rugi, udah bayar tapi cuma makan sayur mayur doang, wakakak.  

Hal kedua yang membuat menantang adalah tidak tersedianya sarana beribadah seperti masjid dan mushala. Sebenernya kalo di Sendai ada sih masjid, tapi jauh dan naik gunung, jadi biasanya orang Indonesia pergi ke sana naik mobil. Dengan demikian, gue harus bisa ngatur waktu dengan baik biar bisa solat di asrama, yakni dengan tidak pergi ke tempat yang aneh-aneh di waktu-waktu solat seperti sebelum magrib. Ohiya, kalau di kampus sih biasanya gue dan teman-teman solat di ruang kelas yang kosong atau tempat lain yang sepi.

Selama kurang dari sebulan di sini, gue cuma pernah solat di tempat 'aneh' sebanyak dua kali sih, haha. Pertama adalah di tangga sebuah pertokoan. Bukan tangga emergency loh, tapi tangga biasa, hanya saja di bagian platform antara dua lantai. Terus yang kedua adalah solat di samping kuil, waktu itu lagi berwisata eh nggak dapet tempat solat, jadilah solat di sebelah kuil, hahaha. Ohiya kalau dipikir-pikir terakhir kali gue solat di mushola itu tanggal 24 September 2012 di Kuala Lumpur, ckck sudah lama sekali yah.

Nah intinya, gue harusnya bersyukur banget jadi seorang muslim yang tinggal di Indonesia. Makanan hampir semuanya punya logo halal, sarana beribadah tersedia dimana-mana, pokoknya mudah banget deh. Tapi memang terkadang, kemudahan itu membuat gue menjadi lalai, ckck. Semoga setelah nanti pulang ke Indonesia gue bisa menjadi pribadi yang lebih bersyukur, amiin :)

Baiklah burung pipit burung cendrawasih, cukup sekian dan terima kasih. Sorry kalau post-nya fail, ini bingung aja nggak ada kerjaan di kamar, haha (sok).

Have a nice day folks!

Wassalamualaikum wr. wb.

No comments:

Post a Comment