Friday, November 30, 2012

Wajar Saja

Assalamualaikum wr. wb.

Om saya pernah bercerita tentang teman beliau yang dulu disekolahkan oleh pemerintah Indonesia ke Jerman. Sebut saja Pak X. Pak X dibiayai oleh pemerintah untuk bersekolah di Jerman, dengan jurusan teknik sayap pesawat. Setelah menyelesaikan studinya di Jerman dengan cemerlang, Pak X pun kembali ke Indonesia dengan harapan bisa membangun negerinya melalui ilmu yang sudah beliau dapatkan selama bersekolah di luar negeri. Ilmu yang sangat bermanfaat karena bisa menyokong industri pesawat terbang di Indonesia. Bisa jadi ilmu tersebut dapat memperbaiki produksi pesawat terbang lokal, sehingga Indonesia tidak perlu lagi mengimpor pesawat dari luar negeri. Akan tetapi, setelah menyelesaikan studi dan kembali ke Indonesia serta diterima untuk bekerja di badan usaha pesawat terbang negara, beliau justru diberi sebuah ruang kantor; berisi meja dan kursi. Mungkin beliau diminta mengerjakan masalah administrasi (?) karena dianggap karyawan baru (?).Tidak ada laboratorium. Tidak ada fasilitas untuk mengaplikasikan ilmu beliau. Beliau berusaha bertahan, tetapi tidak lama, tawaran bekerja pun muncul dari universitas ketika beliau bersekolah di Jerman. Tawaran pekerjaan yang berkaitan dengan studinya dan memiliki prospek bagus sekali. Hingga sekarang, beliau telah menjadi sukses dan menetap di Jerman. Sayang sekali.

Saya memiliki seorang senior di universitas saya di Jepang saat ini. Beliau berasal dari keluarga yang tidak mampu, akan tetapi beliau memiliki otak yang sangat cemerlang sehingga dapat memenangkan olimpiade fisika internasional. Ketika memenangkan olimpiade tersebut, beliau diundang ke istana Presiden di Indonesia dan Pak Presiden menjanjikan bahwa negara akan membiayainya besekolah di universitas manapun yang Ia inginkan di negara manapun yang Ia mau. Akan tetapi, hal tersebut tidak terealisasi. Ketika itu, Ia mendaftar di salah satu Institut Teknologi yang paling terkenal di Indonesia, di Bandung. Beliau lolos seleksi, tapi tidak mendaftar ulang karena tidak punya biaya yang cukup. Menyedihkan. Seorang juara olimpiade fisika internasional yang jelas memiliki potensi yang sangat besar malah disia-siakan begitu saja hanya karena masalah uang. Akhirnya Ia pun mendaftar beasiswa Monbukagakusho ke Jepang dan diterima. Hingga kini Ia telah bersekolah di Jepang selama kurang-lebih empat tahun. Ia berencana melanjutkan S2 dan S3 di Jepang atau di negara lain. Dan, tahu apa cita-cita beliau sekarang? Menjadi professor (sensei) di universitas dimana Ia berada sekarang (di Jepang) karena Ia merasa berterima kasih dan mencintai universitas tersebut. Sayang sekali.

Mungkin dua orang di atas hanya sebagian kecil dari orang-orang potensial lainnya yang tidak dihargai oleh negaranya sendiri. Kalau menurut saya, hal itu terjadi bukan karena mereka tidak cinta negara. Toh, salah satu dari mereka sudah pernah berusaha mengembangkan Indonesia. Mungkin saja, mereka lelah dan bosan berjuang sendirian. Seolah-olah mereka yang membutuhkan Indonesia. Padahal menurut saya, Indonesia yang butuh mereka. Jadi wajar saja kalau mereka 'minggat' ke negara lain. Miris sekali rasanya. Ya Allah, semoga orang-orang yang ada di pemerintahan saat ini bisa melakukan perubahan menuju perbaikan. Amiin.

Wassalamualaikum wr. wb.

No comments:

Post a Comment