Thursday, February 28, 2013

Mari Mencoba!

Assalamualaikum wr. wb.

Halo! Sembari menunggu nasi di rice cooker yang masih belum matang, gue mau berbagi sesuatu nih, hehe. Seperti judul di atas, post kali ini akan bercerita tentang pengalaman gue mencoba. Yap, saat ini gue sedang mencoba melakukan suatu aktivitas baru, yakni menari! Hahaha.

Meski nama gue Tari, sebenarnya gue bisa dibilang nggak terlalu berbakat dalam hal ini. Tidak seperti wanita-wanita penari yang umumnya memiliki tubuh yang "lentik" dan gerakan yang gemulai, gerakan tubuh gue bisa dibilang kaku, hahaha. Terakhir kali gue menari pun waktu gue SD sekitar kelas dua kalo ga salah. Waktu itu gue masih ikutan kursus Tari Bali. Tapi yah, sudah hampir semua gerakan telah gue lupakan.

Nah kebetulan bulan April nanti Persatuan Pelajar Indonesia Sendai akan ngadain acara Festival Indonesia dan gue termasuk salah satu penari pembuka. Wiih, keren ya, hahaha. Tapi tenang aja, bukan berarti gue jago kok, gue dipilih semata-mata karena gue mahasiswi exchange yang notabene masih terbilang muda dan masih punya semangat buat ngikutin banyak latihan. 

Latihan tari pertama dimulai kemarin. Di kala liburan panjang sedang melanda dan gue nggak punya banyak aktivitas (maupun uang) sehingga nggak gitu ada kerjaan alias gabut, jadilah aktivitas latihan menari ini sebuah kegiatan pengurang stres sekaligus pengisi waktu luang dan olah raga. Untung ada salah seorang junior Indonesia di Tohoku University yang dulunya sempat les menari, jadilah dia yang membuat koreografi pembukaan ini. Sebenernya koreografi yang diciptakan nggak terlalu susah karena semua pesertanya amatiran. 

Yang membuat gue kagum adalah betapa seru dan menariknya kegiatan ini :D Sebelumnya gue nggak pernah berpikir untuk ikut kegiatan menari, rasanya nggak gue banget gitu. Tapi ternyata, setelah mencoba untuk pertama kalinya setelah selang waktu yang cukup lama, gue suka banget dan gue pun jadi ketagihan buat latihan dan terus latihan! Hahaha :D

Hal ini memberi gue pelajaran hidup: bahwa kita nggak boleh takut dan malas untuk mencoba. Mencoba apapun, terutama hal baru yang kita nggak pernah kira bahwa kita mau ataupun mampu melakukan hal itu (kecuali hal-hal buruk yang kita tahu nggak baik buat diri kita ya, kayak merokok atau pakai narkoba, haha). Karena, toh nggak ada salahnya. Kalau ternyata kita nggak suka ya kita tinggalkan aja, nothing to lose kan? :) Hebatnya lagi, bisa jadi dengan banyak mencoba kita menemukan passion kita, menemukan apa yang benar-benar kita suka. Jadi, ayo terus mencoba hal baru, selagi Allah masih memberi kita umur di dunia :D

Yeay! Have a very nice day all :D

Wassalamualaikum wr. wb.

Friday, February 22, 2013

Teruntuk Kamu

Dua setengah tahun sudah aku mengenalmu.
Pertama kali dikenalkan, katanya kamu itu menarik, seru, dan menyenangkan.
Awalnya aku tidak percaya, tapi ternyata benar adanya.

Kamu memang istimewa.
Tidak perlu waktu lama-lama untuk membuatku jatuh cinta.
Enam bulan, eh, mungkin tiga atau satu bulan saja.
Ah entahlah, aku juga sudah lupa.
Tapi aku tahu sudah pernah jatuh cinta.

Sama kamu.

Terima kasih, ya. Sungguh.
Tanpa kamu, mungkin aku belum menemukan impian besarku.
Tanpa kamu, mungkin dua setengah tahunku abu-abu.
Tanpa kamu, mungkin aku banyak tak tahu.


Oh iya, terima kasih juga karena mengenalkan aku dengan orang-orang yang selalu bisa kuandalkan.
Orang-orang hebat yang aku tahu akan terus berjuang.

Mungkin, bukan lagi berjuang untuk kamu.
Tapi berjuang untuk mereka yang lebih besar.
Atau, untuk mereka yang masih lemah dan kecil.


Sekarang... banyak yang bilang kita harus berpisah.
Ah, benarkah?

Yah, aku harus bagaimana lagi.
Kamu memang harus bertemu orang baru, yang lebih segar, lebih pintar, dan lebih segalanya.
Supaya kamu senang.
Supaya kamu juga bisa lebih berkembang.

Bagiku, tahu bahwa aku sudah menjadi salah satu yang membantumu berdiri,
di masa-masa kamu masih merangkak,
di waktu-waktu kamu masih berteriak,
sudah cukup.

Aku bangga bisa membantu membesarkanmu.

Oh iya, lupa. Satu lagi.
Yang paling penting, hehe.

Terima kasih ya, atas segala kenangan dan ingatan.
Bersama kamu.
...
Bersama orang-orang yang juga ikut mendewasakan kamu.
Terima kasih. Sungguh.


Teruntuk yang terkasih, Desa Binaan FEUI.

Sunday, February 17, 2013

One Rainy Day

Gerimis. Si wanita tergopoh-gopoh turun ke lantai terbawah asramanya untuk segera pergi ke kampus. Hari itu, lagi-lagi berjalan kaki. Sepeda yang biasa Ia naiki ditinggalkannya di kampus kesayangan; wajar saja, beberapa hari sebelumnya salju menyapa kota kecil itu. Membuatnya kesulitan mengendarai sepeda di atas licinnya air yang mengeras di atas aspal jalanan.

.

Payung. Ah, si wanita lupa. Berlari Ia kembali menuju kamarnya, mengambil payung biru tua yang sudah disiapkan di atas meja. Pelupa. Selalu saja.

.

Hari itu berangin. Dingin. Di tengah cuaca itu si wanita harus membuka sarung tangan wolnya. Bukan apa-apa, sebuah pesan singkat baru saja masuk ke telepon genggamnya. Tak bisa Ia mengetik tanpa melepaskan satu-satunya pertahanan terhadap jemarinya yang hampir membeku. Sembari menunduk, dipandanginya layar persegi empat itu. 

.

Hentakan sol sepatu boots yang sudah mulai menipis menimbulkan suara-suara keras di atas lapisan es bekas guyuran salju tadi malam. Alasannya dua. Pertama, sol itu sudah terlalu menipis hingga membuatnya semakin licin dan membutuhkan langkah-langkah yang lebih tegas agar Ia tak tergelincir. Nomor dua, siang itu nampaknya cukup sunyi; hanya hentakan langkah wanita itu yang terdengar di jalan-jalan kecil di antara rumah-rumah dan sebuah kuil besar.

.

Tak.. Tok.. Tak.. Tok..

.

Dari kejauhan, terdengar suara langkah itu bertambah, nampaknya sekarang Ia tak lagi sendirian. Sesosok manusia terlihat berjalan di samping si wanita, selintas melewati payung biru tua itu. Tetapi si wanita terlalu sibuk, melihat ke layar persegi empat kecil di depannya. Ia hanya mendengar suara langkah marjinal yang baru saja terdengar beberapa saat lalu dan tidak cukup penting untuk melepaskan pandangannya yang melekat pada si layar persegi empat.

.

"Hey."

Seorang pria tinggi dan tampan, dengan penampilan bergaya tahun '50-an merunduk, memandangi wajah si wanita yang terkejut.

"Ah, ternyata ini benar kamu. Barusan aku tak yakin orang di depanku ini benar kamu atau bukan." sapa sang pria sambil tertawa kecil.

.

Sang wanita terdiam sejenak, lalu tersenyum.

.

Nampaknya hari itu Ia harus menghabiskan empat puluh menit perjalanannya ke kampus kesayangan bersama pria itu. Ah, mungkin sulit untuk menahan perasaan aneh dalam perutnya di tengah hujan gerimis, gemercik air yang timbul dari langkah-langkah kecilnya dan langkah-langkah besar si pria melompat-lompat di antara genangan air hari itu, dan dari dinginnya udara musim dingin yang masih belum berlalu.

.

.

.

"Kau tahu, salju yang seperti ini..." katanya sambil mengambil secuil salju dari tanah, "di negaraku disebut sesuatu yang bisa diartikan sebagai huggable snow alias salju yang bisa dipeluk ...karena kelembutannya.", si pria berkata di akhir perjalanan.

Saturday, February 16, 2013

Accents

Hello folks!

Today, I'm gonna be talking about accents. 

Before starting with it, let's talk a bit about the whereabouts I learned accents. To be honest, I guess it's mainly from movies and YouTube. As you might already know, my first YouTube obsession is *drumrolls* Ryan Higa for his account namely nigahiga. Since he's from America (although he's genetically a Japanese), he has an American accent and probably this (and other American things I watched) has had a big influence for my current English accent which, most of my friends say, is american-like. I am not a native so my accent is not that good, but yeah, my friends told me so.

On the other hand, I don't fancy American accent that much with no particular reason. I've been very fond of England or British accent ever since I watched the box office movie called Harry Potter for the first time. How Emma Watson talked in that movie really did inspire me. Even so, I did not get enough access to many British movies nor British YouTube-ers since I found their videos too hard to understand. For me, it was not as easy as American accent to listen to.

Now that I feel like I've had enough of american accents learning, I want to try learning the accent I have been really fond of for couples of years: British Accent. So, starting from the scratch once again, I tried watching YouTube videos of people coming from UK or England, and try my best to understand every little thing they are talking about. This is not easy, haha. I found myself bewildered with many vocabularies which are not commonly used by American people. Also, their accents made it hard for me to catch up with what they're saying. Ah, I feel like a fool, haha.

However, we do need to struggle to learn new things. Now, I still find it hard to understand what Carrie Hope Fletcher is saying when she's speaking in incredibly fast pace. But years ago, I found it really hard too to catch every single word spoken by Ryan Higa on his Off The Pills videos. So, yeah, I hope I can continue learning this and be able to master British accent in a few years.

And for you who also want to know British people on YouTube, you might want to subscribe to them: Charlie McDonnell (My favourite nerd! :D), Carrie Hope Fletcher (Yes, you heard it right. She's the sister of Tom Fletcher, that vocalist of McFly), or Zoella (She's cute but I'm not really into make-ups or fashion thingy so for you who like those kind of stuffs she would be just right for you :D), and many more. If you watched their videos on YouTube you might be suggested to watch other vloggers too and you can always find a perfect match for yourself :)

Yep. That is all for my post today, haha. Thanks for reading :)

Have a nice Saturday night! :)

Friday, February 15, 2013

Movie Endings

Hello!

It's time for not-very-thoughtful post in the blog after several weeks of fancy writings haha :)

I just watched a movie called "Like Crazy" online. It was such a cute, realistic movie. I really liked it ever since the beginning of the story. How it was so realistically filmed and how great the flow of emotion captured astonished me.

However, by the time I got to the end of the movie, I was somehow disappointed. Why? Because the ending made me feel like I did not know and would never know how the story actually ended. I found the ending made me fall into a deep tunnel of uncertainty, haha. But well, I guess the realistic-point of the movie is what the director wanted to show. In life, we actually never know what will happen. What I'm trying to say is, at this current point of life, we might think that our future would be as happy as the, say, couple of princes and princesses in Disney movies. But, we never know what happens next to Aladdin and Jasmine or to Cinderella and Prince Charming, right?

Despite the logical explanation of what I called disappointing ending, maybe I should say that I am a conservative, or an old-fashioned girl. Easy, because most of the times, I expect happy endings. I would want to know, if it's a love story, whether they actually will live happily-ever-after and stuffs. Haha. 

So yeah, I guess doing movie reviews would not be a good occupation for me in the future.

For you who have read until this line. Thank you. This is such an unimportant writing yet you're still willing to read this through, hahaha.

Lastly, have a great weekend all!

Saturday, February 9, 2013

Ichi-go Ichi-e

"One opportunity, one encounter" or "One time, one meeting". That we only have one chance to meet someone, or to feel a particular atmosphere, or to experience particular moment. That every moment happens in life is different, is unique in its way, and would not recur. Understanding this phrase, one might then think about living to the fullest in this particular moment and making the best use of probably the most precious yet tricky element in life: time; the underpinning aspect of what we call moments.

.

Seeing friends leaving, trying to go for their dreams, I kept asking myself, never felt as unsure about the answer, will we ever meet again?

Realising that we had once been separated by thousand miles of land and ocean, the fact that all of a sudden we were destined to meet each other in a particular place out of the vast earth is indescribably amazing. Being grateful for the moments lived and the memories created upon this encounter is a must, if I may say. Nevertheless, to find out that our encounter might only happen once in our lifetime, that this might be what the Zen Buddhism meant by "Ichi-go Ichi-e", is somehow twitching. Time flies before our eyes; sometimes it's too fast, really. Too fast that at times it hurts to let go of someone you never know when to see next.

Tuesday, February 5, 2013

One Day in Winter

Pak Ketua, jadi bagaimana? Adakah yang bisa aku bantu? Kelasku baru saja selesai.

Tak lama setelah pesan singkat itu dikirimkan, telepon genggamnya pun bergetar. Sebuah telepon dari Pak Ketua.

"Ya, sebenarnya aku memerlukan bantuanmu untuk mencetak flyer ini, aku tidak mau melakukannya sendirian. Kamu di mana sekarang?"

"Aku baru saja selesai kelas, bagaimana kalau bertemu di ruang mahasiswa?"

"Oke. Sampai jumpa di sana."

Langkahnya pun dipercepat, menuju ruang bersantai mahasiswa itu. Di sana, bertemulah Ia dengan seorang pria tinggi dan tampan, dengan pakaian bergaya tahun '50-an, berkelas.

Berdua mereka keluar dari ruangan hangat itu, menuju dinginnya udara awal musim dingin. Pergilah mereka melewati taman-taman kampus yang rapi, menyebrangi jalan menuju wilayah lain dari kampus itu. Hingga tibalah mereka di sebuah gedung besar Departemen Pendidikan.

"Ah, untung saja asisten dosen itu mau berbaik hati meminjamkan printer laboratoriumnya untuk mencetak semua ini."

"Ya, tapi dia memang sudah berjanji akan melakukannya 'kan? Kurasa memang seharusnya begitu, karena tugas ini pun baru diberikan kemarin sore, bagaimana bisa kita menyelesaikannya tanpa bantuan."

Pria itu pun tersenyum mendengar ucapan jujur si wanita. Tiba-tiba pikirannya teringat ke masa kecilnya dulu.

"Ah, kamu tahu ini?", pria itu melipat-lipat lembaran-lembaran kertas panjang sisa pinggiran flyer yang baru saja dipotong sesuai ukurannya. Satu persatu dilipat, kemudian dipanjangkannya lipatan kertas itu hingga membentuk suatu rantai dari kertas.

"Ah, tentu saja aku tahu!", si wanita pun ikut melakukan hal yang sama.

"Aku rasa dulu aku mempelajarinya ketika masih kanak-kanak", ujar sang wanita sambil tersenyum lebar. Senang.

"Oh ya? Aku rasa ini hal bodoh. Dulu, ibuku yang seorang direktur perusahaan periklanan mengajari hal ini. Sejak kecil aku memang sudah terbiasa diajarkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan seni karenanya. Yah, ini salah satunya. Dulu aku dan saudara-saudaraku melakukannya setiap hari di rumah. Bodoh bukan?"

"Tentu saja itu tidak bodoh! Mungkin itu bisa melatih... Hm.. Mmm.. Kreativitas?"

Pria itu tersenyum. Dipandangnya wanita polos itu. Jarang sekali, Ia bertemu wanita seperti ini. Unik.

"Yah, mungkin tidak bodoh."

Mereka berdua pun tersenyum. Terasa ada sebuah perasaan hangat di dalam perut mereka. Tapi mereka tidak berkata apa-apa.

"Baiklah, mungkin kita harus pulang sekarang."

"Ya."

Pintu otomatis di Departemen Pendidikan pun terbuka ketika mereka hendak melewatinya.

"Ah!"

Kertas-kertas kecil bertuliskan nama peserta seminar esok hari terjatuh, terserak di tanah.

"Maaf! Aku tidak sengaja!"

"Hmm, paling tidak aku tahu siapa yang harus disalahkan jika besok ada seseorang yang tidak mendapatkan kartu namanya.", ujar sang pria; tertawa kecil sembari ikut memungut lembaran-lembaran kertas itu.

Keduanya pun berjalan melewati taman-taman rapi kampus, menuju parkiran sepeda. Cukup hening, mereka tak banyak bicara. Mungkin karena malam itu terasa istimewa. Entah karena mereka terpana memandang bulan yang setengah penuh di hari itu, atau karena kupu-kupu yang menari seiring dengan langkah dua anak manusia yang sedang bertanya-tanya jikalau mereka sedang jatuh cinta.

Saturday, February 2, 2013

A Vlog!

Assalamualaikum wr. wb.

So I decided to make a video blog also known as Vlog :)

You can watch it here! :)

Just trying a new thing, it's almost spring holiday anyway :D Hope you like it, haha.

Just Another Thought

Terkadang, kita harus bangkit dari singgasana, untuk bisa merasa.
Karena mungkin, mungkin, kita terlena, terlupa.

Lihat, lihat, lihat, dan perhatikan.
Bukankah itu keperihan?
Mungkin hidup terlalu pahit bagi mereka, tapi kita tidak merasa.

Terkadang kita perlu terjatuh, tersungkur, terpuruk.
Untuk bisa melihat apa yang mereka asumsikan sebagai realita.

Terkadang kita harus berhenti sejenak, berpikir.
Berpikir tentang mereka.
Tentang diri sendiri. Tentang egoisme. Tentang sudut pandang. Tentang kebenaran, keadilan, dan prinsip.

Lalu menemukan.

Kemudian bertindak, bergerak.
Bertindak.
Bergerak.

Friday, February 1, 2013

2.50am, Sendai-shi

Should there be many ways to see almost anything, why sticks with a single one?

It's almost the same with taking the same road each time. Much less to learn, much less to discover, much less to experience.

Learning, discovering, experiencing something new, for me, can never be wrong. Even the worst part, or what people say as the worst part, of an experience still gives lessons to be learned.