Tuesday, February 5, 2013

One Day in Winter

Pak Ketua, jadi bagaimana? Adakah yang bisa aku bantu? Kelasku baru saja selesai.

Tak lama setelah pesan singkat itu dikirimkan, telepon genggamnya pun bergetar. Sebuah telepon dari Pak Ketua.

"Ya, sebenarnya aku memerlukan bantuanmu untuk mencetak flyer ini, aku tidak mau melakukannya sendirian. Kamu di mana sekarang?"

"Aku baru saja selesai kelas, bagaimana kalau bertemu di ruang mahasiswa?"

"Oke. Sampai jumpa di sana."

Langkahnya pun dipercepat, menuju ruang bersantai mahasiswa itu. Di sana, bertemulah Ia dengan seorang pria tinggi dan tampan, dengan pakaian bergaya tahun '50-an, berkelas.

Berdua mereka keluar dari ruangan hangat itu, menuju dinginnya udara awal musim dingin. Pergilah mereka melewati taman-taman kampus yang rapi, menyebrangi jalan menuju wilayah lain dari kampus itu. Hingga tibalah mereka di sebuah gedung besar Departemen Pendidikan.

"Ah, untung saja asisten dosen itu mau berbaik hati meminjamkan printer laboratoriumnya untuk mencetak semua ini."

"Ya, tapi dia memang sudah berjanji akan melakukannya 'kan? Kurasa memang seharusnya begitu, karena tugas ini pun baru diberikan kemarin sore, bagaimana bisa kita menyelesaikannya tanpa bantuan."

Pria itu pun tersenyum mendengar ucapan jujur si wanita. Tiba-tiba pikirannya teringat ke masa kecilnya dulu.

"Ah, kamu tahu ini?", pria itu melipat-lipat lembaran-lembaran kertas panjang sisa pinggiran flyer yang baru saja dipotong sesuai ukurannya. Satu persatu dilipat, kemudian dipanjangkannya lipatan kertas itu hingga membentuk suatu rantai dari kertas.

"Ah, tentu saja aku tahu!", si wanita pun ikut melakukan hal yang sama.

"Aku rasa dulu aku mempelajarinya ketika masih kanak-kanak", ujar sang wanita sambil tersenyum lebar. Senang.

"Oh ya? Aku rasa ini hal bodoh. Dulu, ibuku yang seorang direktur perusahaan periklanan mengajari hal ini. Sejak kecil aku memang sudah terbiasa diajarkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan seni karenanya. Yah, ini salah satunya. Dulu aku dan saudara-saudaraku melakukannya setiap hari di rumah. Bodoh bukan?"

"Tentu saja itu tidak bodoh! Mungkin itu bisa melatih... Hm.. Mmm.. Kreativitas?"

Pria itu tersenyum. Dipandangnya wanita polos itu. Jarang sekali, Ia bertemu wanita seperti ini. Unik.

"Yah, mungkin tidak bodoh."

Mereka berdua pun tersenyum. Terasa ada sebuah perasaan hangat di dalam perut mereka. Tapi mereka tidak berkata apa-apa.

"Baiklah, mungkin kita harus pulang sekarang."

"Ya."

Pintu otomatis di Departemen Pendidikan pun terbuka ketika mereka hendak melewatinya.

"Ah!"

Kertas-kertas kecil bertuliskan nama peserta seminar esok hari terjatuh, terserak di tanah.

"Maaf! Aku tidak sengaja!"

"Hmm, paling tidak aku tahu siapa yang harus disalahkan jika besok ada seseorang yang tidak mendapatkan kartu namanya.", ujar sang pria; tertawa kecil sembari ikut memungut lembaran-lembaran kertas itu.

Keduanya pun berjalan melewati taman-taman rapi kampus, menuju parkiran sepeda. Cukup hening, mereka tak banyak bicara. Mungkin karena malam itu terasa istimewa. Entah karena mereka terpana memandang bulan yang setengah penuh di hari itu, atau karena kupu-kupu yang menari seiring dengan langkah dua anak manusia yang sedang bertanya-tanya jikalau mereka sedang jatuh cinta.

2 comments: