Sunday, June 2, 2013

Doa untuk Seekor Anjing

Sudah lama sekali aku ingin menulis tentang ini, tentang seekor anjing di balik jendela.

Dalam perjalanan-perjalananku menuju kampus, atau kembali dari kampus, seringkali aku melihat anjing ini. Seekor anjing berbulu tebal berwarna cokelat muda. Pertama kali aku melihatnya, kukira ia sebuah patung, karena ia diam tak bergerak dengan wajah yang terwarnai senyum tipisnya. Di balik jendela rumah itu. Setiap kali aku melewati rumah itu di kala matahari sedang bersinar terang, sang anjing selalu berdiri diam di balik jendela, berjemur.

Di hari-hari cerah ketika aku sedang sakit perut, maupun di hari-hari ketika aku sedang bersenandung riang setelah tanpa sengaja berpapasan dengan lelaki idaman, ia selalu kutemui di tempat yang sama. Selalu di balik jendela. Berjemur.

Selalu seperti itu.

Sebenarnya aku dan ia tak punya hubungan apa-apa. Aku tak pernah tahu namanya, ataupun pemiliknya. Aku hanya tahu bahwa ia adalah seekor anjing yang akan selalu berjemur di balik jendela rumah itu di hari-hari yang cerah.

Kebetulan saja aku selalu melihatnya. Di kala aku sedang senang ataupun berduka. Dalam perjalanan-perjalananku. Aku dan si anjing tak punya hubungan istimewa, tapi aku tahu suatu saat akan akan merindukannya. Karena entah mengapa aku merasa ia seperti saksi bisu yang tahu betul hari-hariku selama delapan bulan di kota ini.

Ah, rasanya aku ingin bilang terima kasih. Tetapi karena aku tak mengerti bahasa anjing, biarlah ia kukirimkan sebuah doa.


Ketika aku meninggalkan Sendai nanti, 

semoga ia akan baik-baik saja,

dan tetap berjemur di balik jendela rumah itu,

di hari-hari yang cerah. 

Aamiin.

No comments:

Post a Comment