Monday, July 15, 2013

Selamat Datang Lagi, Ramadhan :)

Assalamualaikum wr. wb.

Alhamdulillah.

Alhamdulillah, tahun ini masih diberi umur untuk merasakan Ramadhan, meski dengan suasana yang cukup berbeda. Tidak seperti biasanya, tahun ini saya harus sahur sebelum subuh pukul 2.30 dan buka puasa sekitar pukul 19.00. Ya, selama perjalanan hidup saya yang dua puluh tahun ini, inilah puasa terpanjang, hehe :)

Beberapa waktu sebelum Ramadhan tahun ini, ada sebuah pertanyaan menarik ketika sedang berbincang dengan seseorang: Benarkah yang kita rindukan adalah bulan Ramadhan yang dipenuhi keberkahan? Bukan suasana sahur dan berbuka serta suasana tarawih di mesjid depan rumah? Bukan acara buka puasa bersama teman lama? Bukan tayangan televisi serta iklan bernuansa bulan puasa?

Hmm, saya seperti menemukan jawabannya di Ramadhan kali ini. Di Ramadhan tahun ini, timbul perasaan rindu akan hal-hal tertentu. Contohnya, saya merindukan keberadaan keluarga saya ketika sahur dan berbuka. Selain itu, suara adzan yang biasanya ditunggu-tunggu di televisi pun tidak pernah terlihat. Ya, meski terkadang terdengar suara adzan dari telepon genggam beraplikasi penanda waktu sholat, rasanya tetap tidak sama. Saya juga rindu menu sahur serta berbuka yang biasanya sangat menarik dan lengkap mulai dari es buah, gorengan, kolak, sampai nasi serta lauknya. Sementara tahun ini, seringkali makanan sahur dan berbuka sangat sederhana, bahkan terkadang makanan sahur dan berbuka sama saja karena selang waktu yang tidak terlalu jauh antara keduanya.

Setelah dipikir-pikir, di Ramadhan ini, ya... hal-hal seperti itulah yang saya rindukan.

Ternyata memang benar, nampaknya yang saya rindukan hanyalah suasana Ramadhan, bukan keberkahan Ramadhan itu sendiri. Rasanya saya sangat malu, telah diberi kesempatan oleh Allah untuk kembali merasakan Ramadhan, tetapi ternyata yang saya rindukan sebelumnya hanya sebatas suasana-nya, padahal saya yakin bulan ini jauh lebih berharga dan jauh lebih suci.

Yah, meski saya masih merasa sedikit sedih karena kerinduan akan suasana Ramdhan yang seperti biasanya, saya berpikir, bukankah di saat seperti ini lah kita bisa meraskan esensi Ramadhan yang sesungguhnya?

Mengapa kita harus makan berlebih-lebihan ketika berbuka padahal kita diuji untuk merasakan sulitnya menjadi kaum dhuafa? Ya, kali ini saya dipaksa untuk menjalani bulan Ramadhan dengan biasa saja, menjalani hari-hari layaknya hari biasa tanpa menu yang serba ada ketika berbuka, tanpa ada sekat-sekat penghalang ketika berjalan ke restoran, tetap melihat teman-teman makan siang di kantin yang antriannya tetap panjang, tetap bersepeda atau berjalan kaki di bawah teriknya matahari musim panas, dan lain sebagainya.

Ternyata memang sedikit memberatkan, tetapi menyenangkan juga. 

Semoga, dengan ketiadaan hal-hal yang telah saya rasakan selama dua puluh tahun melaksanakan Ramadhan, saya dapat lebih mengenal Ramadhan itu sendiri, lebih bijak dalam menyelami keberkahannya, serta lebih optimal dalam memanfaatkan kesempatan untuk memperbaiki diri sendiri yang masih sangat mementingkan dunia fana ini. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa saya tetap merindukan suasana Ramadhan, semoga kesadaran akan betapa Ramadhan sesungguhnya jauh lebih dari sekadar "suasana" bisa membawa diri saya ke arah perbaikan yang lebih baik lagi. Aamiin :)

Semangat, masih ada sekitar 24 hari lagi, semoga bisa kita maksimalkan ya :D

Wasslamualaikum wr. wb.

No comments:

Post a Comment