Saturday, September 28, 2013

The Tale of An Eleven

"It's funny how, in this journey of life, even though we may begin at different times and places, our paths cross with others so that we may share our love, compassion, observation, and hope."
-Steve Maraboli


Tohoku University IPLA 2012-2013

Perjalanan tidak pernah berhenti menjalankan tugasnya untuk mengajarkan. Sebelas bulan hidup di negeri kepulauan yang berjarak sekitar enam ribu kilometer dari rumah, terlalu banyak kisah yang menyenangkan maupun menyesakkan dan sulit rasanya untuk bisa seluruhnya diceritakan. Tetapi terkadang kisah terpenting dari sebuah perjalanan bukanlah perjalanan itu sendiri, melainkan pelajaran, yang sangatlah baik untuk dikisahkan.

Refleksi untuk memperbaiki diri.
Bus serta kereta yang selalu datang tepat waktu, mahasiswa yang datang bahkan sebelum dosen memulai pelajaran, sampah yang tidak pernah dibuang sembarangan, etos kerja tinggi, sopan santun dan tatakrama, hingga budaya malu jika melakukan hal yang tidak sepantasnya telah menjadi pelajaran-pelajaran yang benar-benar berharga dari masyarakat Jepang. Kompetisi yang terasa dari mahasiswa-mahasiswa luar negeri juga menjadi cambukan yang membuat saya ingin belajar lebih banyak lagi. Citra Indonesia di mata bangsa yang berbeda juga menjadi bahan pelajaran untuk memperbaiki diri.

Belajar dan terus berkembang.
Pengalaman selama di negeri orang membukakan saya kesempatan untuk belajar hal-hal baru yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Saya mendapat kesempatan untuk mengikuti upacara minum teh, belajar memetik ceri, membuat kaligrafi dan pottery, memasak dan membuat kue, bermain gitar, fotografi, menari, bermain angklung, bahkan belajar mengerjakan paper dengan format jurnal internasional serta slide presentasi. Bukan hanya belajar budaya masyarakat negeri lain, saya juga banyak mempelajari budaya negeri sendiri untuk memperkenalkannya pada masyarakat luar.

Menemukan sahabat andalan dari belahan bumi yang berbeda.
Saya bersama delapan belas mahasiswa lainnya telah menemukan sahabat yang selalu bisa kami andalkan ketika mengunjungi Indonesia, Thailand, Vietnam, China, Hongkong, Taiwan, Jepang, Jerman, Australia, maupun Swedia. Menakjubkan rasanya jika memikirkan bagaimana kami semua melakukan perjalanan yang sangat jauh dan lama untuk bersama-sama berbagi kehidupan selama sebelas bulan di Sendai. Ya, mereka rasanya seperti keluarga yang baru saya temukan setelah lama terpisah karena batasan ruang.

Mengenal orang lain untuk mengenal diri sendiri. 
Bertemu dengan berbagai jenis orang dari berbagai negara juga mengajarkan saya untuk menemukan persamaan serta perbedaan antarmanusia serta menjadikan orang lain sebagai cermin untuk lebih jauh melihat ke dalam diri. Terkadang, perbedaanlah yang membantu saya mengetahui lebih jauh siapa saya dan nilai apa yang saya bawa. Saat itulah saya benar-benar merasakan identitas saya, sebagai seseorang yang membawa nilai-nilai bangsa dan agama yang tertanam dalam diri sejak lama, dan di Indonesia saya seringkali tidak menyadarinya.

Rumah di antah berantah.
Ketika rindu akan rumah menghampiri, saya tahu siapa orang yang harus ditemui. Keluarga di Persatuan Pelajar Indonesia - Sendai selalu menjadi orang-orang yang mengobati kerinduan akan bahasa, pergaulan, bercandaan, dan tentunya makanan yang biasa ditemui di rumah, di Indonesia. Mengenal mereka rasanya seperti menemukan rumah di antah berantah, yang selalu menjadi tempat pulang setelah perjalanan yang jauh dan panjang.

Pada akhirnya, setiap perjalanan harus diakhiri. Tujuh belas Agustus 2013 lalu saya dan teman-teman pertukaran dari UI kembali menginjakkan kaki di tanah DKI Jakarta. Sebelas bulan merupakan pengalaman yang luar biasa, sebuah ajang untuk banyak sekali belajar. Tetapi rasanya tugas kami belum selesai, masih banyak yang harus dilakukan. Ya, saya mohon doa agar kami dapat belajar dari pengalaman serta menggunakannya untuk membenahi negeri kita tercinta. :)

Terakhir, untuk kamu yang membaca, selamat melakukan perjalanan dan berpetualang. Terkadang membaca pengalaman di negeri orang membuat kita ingin jauh berkelana, tetapi sejatinya perjalanan tidak melulu tentang menginjakkan kaki di belahan bumi yang lain. Karena menurut saya, yang terpenting adalah pelajaran yang kita dapatkan dari perjalanan tersebut. Tetapi satu hal yang pasti, ketika ada kesempatan, mencoba tidak pernah menjadi pilihan yang salah. :)

Festival Indonesia (Sendai, April 2013)

Friday, September 13, 2013

Ujung Jalan

Beberapa waktu lalu. Musim hujan akhirnya berlalu, gambar matahari terik mulai menghiasi aplikasi perkiraan cuaca di telepon genggamku. Setidaknya tiga sampai empat hari dalam satu minggu diperkirakan merupakan hari yang terik. Harapanku akan kedatangan hujan semakin menipis, setipis angin yang membelai kulitku di awal musim panas.

Begitu pula dengan dia; sudah lama aku tak menjumpainya. Kalaupun bertemu, hanya dalam kelas-kelasku yang tanpa sengaja sama dengannya. Saat itu segalanya terasa begitu datar, tak ada lagi hujan yang menemani, tak ada lagi salju yang terkadang justru menghangatkan, tak ada lagi suara-suara sepatu maupun sapaan yang kukenal. Tak ada lagi rencana berjalan sendirian, yang tanpa terduga ditemani oleh seseorang sesaat kemudian.

Yang membuatku paling sedih, payung yang kini berwarna hitam kebiruan itu terdiam seharian di pojok lemari kayu kamarku. Terlihat lesu.

Hari-hari berlalu, hari kepulangan ke negara asalku semakin mendekat. Tak juga kutemui dirinya. Meninggalkan banyak orang membuat hatiku tersayat, sungguh tidak mengenakkan. Dan sayangnya, tak ada lagi hiburan-hiburan melegakan yang datang dari sang hujan.

Hari itu adalah hari terakhirku bertemu dengannya, hanya beberapa hari sebelum kepulanganku. Seusai kelas, kami berjalan bersama menuju kampus yang berada di seberang jalan. Ketika kami harus berjalan ke arah yang berbeda, ia berkata, "Senang bisa berjumpa denganmu. Selamat tinggal."

Rasanya seperti perpisahan.

Dan memang, itulah perpisahanku dengannya. Pria tampan bergaya '50-an yang seringkali membuatku tersenyum sendirian. Perpisahan itu terjadi begitu saja, begitu cepat dan tanpa aba-aba. Layaknya hujan yang berpisah denganku tanpa basa-basi, tiba-tiba saja terik matahari menghampiri.

Kata orang, segala sesuatu yang menyenangkan akan terasa begitu cepat.

Ya, tahu-tahu saja aku sekarang sudah di sini, di rumahku sendiri, di depan komputer kecil yang belum sempat kuganti. Dan di sini, aku menulis, tentang salju, sepatu bot, hujan, dan payung hitam kebiruan.