Friday, March 21, 2014

Sawo, Ketumbar, Daun Bawang?



Sabtu, 16 November 2013. Seperti biasa, saya yang selalu terburu-buru dan grasak-grusuk sebelum meninggalkan rumah untuk berkegiatan, hari itu tidak sempat untuk sarapan sampai kenyang. Perjalanan sekitar satu jam dengan kereta api tentu saja menghabiskan energi yang hanya saya dapatkan dari setangkup roti. Apalagi, kereta api tujuan Bogor hari itu cukup penuh. Maklum, akhir pekan. Kota Bogor masih merupakan kawasan yang diminati penduduk kota yang sedang bosan.

Di akhir pekan itu, saya bukan berangkat ke Kota Bogor untuk liburan. Saya berangkat menuju Desa Susukan, sebuah desa yang terletak di Kabupaten Bogor. Hari itu saya dan beberapa teman ditugaskan untuk mengajar siswi-siswi SMP di PKBM Nurul Jannah, sebuah sekolah informal yang didirikan untuk mendukung anak-anak kurang mampu agar dapat mengenyam bangku pendidikan.

Sesampainya di Desa Susukan, perut saya yang sudah keroncongan akhirnya diam setelah diisi sepiring nasi, dengan lauk mi goring rasa rendang. Rasa kesukaan. Karena lapar, sepiring nasi habis dengan cepat sekali, dan tidak terasa waktu untuk mengajar sudah menghampiri. Waktu itu hampir pukul satu siang, kami pun melaksanakan sembahyang sebelum masuk ke dalam kelas masing-masing.

Setelah sembahyang, kami berangkat ke lokasi pengajaran, yakni PKBM Nurul Jannah. Penampilan sekolah ini memang cukup unik, bangunan sekolah hanya terdiri dari beberapa kelas, mungkin hanya empat atau lima. Kelas-kelas tersebut pun hanya dibatasi oleh kisi-kisi. Alhasil, suara dari satu ruangan dapat dengan jelas terdengar dari ruangan lainnya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi saya, dalam hal mengasah konsentrasi. Selain itu, di dalam kelas, siswa belajar dengan duduk di atas karpet dan menulis di meja kayu kecil yang tingginya mungkin hanya sekitar delapan puluh senti.

Ketika masuk ke dalam kelas, saya disambut oleh empat orang siswi SMP yang sudah duduk rapi di atas karpet tempat mereka biasa belajar. Saya pun memperkenalkan diri dan berkenalan dengan mereka. Impresi pertama yang saya dapatkan adalah: mereka masih muda sekali. Umur mereka masih sekitar dua belas tahun dan mereka baru duduk di kelas VII, tetapi semangat belajar mereka cukup tinggi. Saya yakin tidak mudah untuk melangkahkan kaki ke tempat belajar pada siang hari di akhir pekan. Bahkan, saat saya masih seumur mereka, akhir pekan saya selalu dihabiskan dengan menonton film kartun kesukaan. Jadi saya yakin empat orang itu adalah anak-anak yang hebat dan penuh semangat.

Sekitar satu-dua menit setelah perkenalan, seorang anak lain masuk ke dalam ruangan. Ternyata anak itu juga salah satu siswa PKBM, meski saat ini ia bersekolah di kelas VIII. Usianya sekitar satu tahun lebih tua dibandingkan anak-anak lainnya. Awalnya saya tidak menyangka, karena saya kira saya akan mengajar anak-anak yang jenjang pendidikannya setara. Tetapi, akhirnya perbedaan ini menjadi tantangan bagi saya untuk mencari tahu bagaimana memberikan materi pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan dapat dicerna oleh keduanya.

Pelajaran bahasa inggris hari itu dimulai dengan pengenalan berbagai jenis teks dalam bahasa Inggris. Rencana awal saya adalah mengajar tentang grammar, tetapi nampaknya hal itu belum dibutuhkan. Saya semakin yakin bahwa grammar bukan menjadi kebutuhan setelah saya melihat lembar-lembar ujian yang dipinjamkan siswi-siswi tersebut kepada saya. Ketika melihat soal-soal tersebut, terlihat bahwa pelajaran bahasa Inggris yang mereka pelajari masih benar-benar dasar, lebih banyak berputar di lingkup kosakata atau istilah-istilah sehari-hari yang dapat ditemukan di lingkungan harian, seperti rumah, sekolah, atau pasar. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengajarkan istilah-istilah penting dalam kehidupan sehari-hari saja sebagai pembekalan dasar untuk mereka.

Kami mempelajari kosakata penting terkait rumah, keluarga, serta lingkungan pasar. Ternyata pengetahuan mereka tentang istilah-istilah dalam bahasa Inggris sudah cukup baik, meski belum optimal. Kata-kata yang bersifat sangat umum seperti “mother”, “father”, atau “bedroom” sudah cukup familiar untuk mereka; namun, kata-kata yang sedikit lebih kompleks seperti “nephew” ataupun “dining room” nampaknya masih sering mereka lupakan.

Kami juga mempelajari cara pengucapan kata-kata dalam bahasa Inggris dengan baik, dan lagi-lagi anak-anak PKBM Nurul Jannah membuat saya kagum. Kali ini karena keberanian mereka untuk mencoba. Meski pengucapan mereka awalnya belum sepenuhnya benar, mereka tidak takut untuk mencoba mengucapkan kata-kata berbahasa Inggris dengan baik di depan kawan-kawan mereka. Tidak takut. Tanpa malu-malu.
Bukan hanya itu, hal lainnya yang bagi saya sangat menarik dari proses belajar-mengajar hari itu adalah terkait diversitas pola pikir anak-anak tersebut, yang menurut saya cukup berbeda dengan anak-anak kota. Sebagai contoh, ketika saya meminta mereka untuk menyebutkan nama sayuran ataupun buah untuk nantinya ditranslasikan ke dalam bahasa Inggris, mereka mengajukan nama sayuran dan buah yang bahasa Inggrisnya tidak pernah terlintas di pikiran saya seperti “daun bawang”, “ketumbar”, hingga “sawo”. Benar-benar di luar dugaan.

Kata-kata itu mungkin memang menggambarkan kehidupan sehari-hari mereka yang belum banyak tepengaruh oleh ingar-bingar kota maupun nyamannya pasar swalayan. Pemikiran yang mungkin sangat berbeda dengan pemikiran anak kota. Menarik sekali. Saat itu saya harus bolak-balik melihat kamus untuk mencari tahu padanan kata-kata tersebut dalam bahasa Inggris. Saya senang, karena hari itu bukan hanya mereka yang belajar, saya pun banyak belajar karena mereka.

Di penghujung hari, sungguh terasa bahwa ber-akhir-pekan di desa Susukan memberi banyak pelajaran. Meski waktu bersantai di akhir pekan berkurang, namun pengalaman hidup dan kekayaan cara pandang justru bertambah. Terima kasih PKBM Nurul Jannah Susukan, sampai jumpa di pertemuan yang akan datang!

Thursday, March 13, 2014

The Stars I Couldn't Fathom into Constellations

Familiar with the title? Of course, you'd read a similar text from this book called "The Fault in Our Stars" by John Green. He wrote: My thoughts are stars I can't fathom into constellations. So here are some thoughts of me coming from a couple months ago, which somehow I can't fathom into decent blog post.

The answer to my anxieties and the lingering question about the purpose of life is that I am trying to find peace inside myself. And there is no better place to find peace but in Islam.

The more I understand myself, the more people would accept me. Faking isn't always necessary, because people would prefer to welcome a person with identity.

Leisure time is really a double-edged sword, at least for me. Using it for activities with much benefits would be much better, really.

One kind of problem which occurs to me as very irritating would be disrespect. I have no respect for people acting disrespectfully. 

Reading the Qur'an and study about Islam bring me back to my purposes and principles, also to the realization of how small and powerless I really am.

Ambition is necessary, but for me, having too much of it would erode the soul. Sometimes it catalyzes too much anxieties I couldn't handle.

It's so saddening to see how ethics and morality aren't valued much by people in my country.