Sunday, February 17, 2013

One Rainy Day

Gerimis. Si wanita tergopoh-gopoh turun ke lantai terbawah asramanya untuk segera pergi ke kampus. Hari itu, lagi-lagi berjalan kaki. Sepeda yang biasa Ia naiki ditinggalkannya di kampus kesayangan; wajar saja, beberapa hari sebelumnya salju menyapa kota kecil itu. Membuatnya kesulitan mengendarai sepeda di atas licinnya air yang mengeras di atas aspal jalanan.

.

Payung. Ah, si wanita lupa. Berlari Ia kembali menuju kamarnya, mengambil payung biru tua yang sudah disiapkan di atas meja. Pelupa. Selalu saja.

.

Hari itu berangin. Dingin. Di tengah cuaca itu si wanita harus membuka sarung tangan wolnya. Bukan apa-apa, sebuah pesan singkat baru saja masuk ke telepon genggamnya. Tak bisa Ia mengetik tanpa melepaskan satu-satunya pertahanan terhadap jemarinya yang hampir membeku. Sembari menunduk, dipandanginya layar persegi empat itu. 

.

Hentakan sol sepatu boots yang sudah mulai menipis menimbulkan suara-suara keras di atas lapisan es bekas guyuran salju tadi malam. Alasannya dua. Pertama, sol itu sudah terlalu menipis hingga membuatnya semakin licin dan membutuhkan langkah-langkah yang lebih tegas agar Ia tak tergelincir. Nomor dua, siang itu nampaknya cukup sunyi; hanya hentakan langkah wanita itu yang terdengar di jalan-jalan kecil di antara rumah-rumah dan sebuah kuil besar.

.

Tak.. Tok.. Tak.. Tok..

.

Dari kejauhan, terdengar suara langkah itu bertambah, nampaknya sekarang Ia tak lagi sendirian. Sesosok manusia terlihat berjalan di samping si wanita, selintas melewati payung biru tua itu. Tetapi si wanita terlalu sibuk, melihat ke layar persegi empat kecil di depannya. Ia hanya mendengar suara langkah marjinal yang baru saja terdengar beberapa saat lalu dan tidak cukup penting untuk melepaskan pandangannya yang melekat pada si layar persegi empat.

.

"Hey."

Seorang pria tinggi dan tampan, dengan penampilan bergaya tahun '50-an merunduk, memandangi wajah si wanita yang terkejut.

"Ah, ternyata ini benar kamu. Barusan aku tak yakin orang di depanku ini benar kamu atau bukan." sapa sang pria sambil tertawa kecil.

.

Sang wanita terdiam sejenak, lalu tersenyum.

.

Nampaknya hari itu Ia harus menghabiskan empat puluh menit perjalanannya ke kampus kesayangan bersama pria itu. Ah, mungkin sulit untuk menahan perasaan aneh dalam perutnya di tengah hujan gerimis, gemercik air yang timbul dari langkah-langkah kecilnya dan langkah-langkah besar si pria melompat-lompat di antara genangan air hari itu, dan dari dinginnya udara musim dingin yang masih belum berlalu.

.

.

.

"Kau tahu, salju yang seperti ini..." katanya sambil mengambil secuil salju dari tanah, "di negaraku disebut sesuatu yang bisa diartikan sebagai huggable snow alias salju yang bisa dipeluk ...karena kelembutannya.", si pria berkata di akhir perjalanan.

No comments:

Post a Comment