Thursday, April 25, 2013

Kaca Bus yang Berembun

Payung biru tua itu sekarang sudah entah di mana. Sang wanita terlalu sibuk dengan dririnya sendiri dan melupakan benda kecil yang selalu menyelamatkannya di kala hujan melanda. Ya, di tengah labilnya cuaca musim semi, sang wanita harus menghadapi suatu hari ketika hujan deras menghalanginya berjalan pulang sendirian.

.

Tidak ada pilihan lain, Ia menunggu bus kampus yang dijadwalkan datang sekitar sepuluh menit lagi dan siap mengantarnya ke asrama. Untungnya, seorang teman bersedia berbagi payung kecil miliknya dengan sang wanita, paling tidak menyelamatkan separuh tubuhnya dari derasnya hujan.

.

Sepuluh menit berlalu, bus kampus datang tepat waktu. Kaca bus itu berembun, dikarenakan perbedaan suhu yang hangat di dalam bus dan hawa dingin di luar; menghalangi pandangan orang-orang yang menunggu bus dan memperkirakan bisa tidaknya masing-masing dari mereka masuk ke dalam bus yang tampaknya cukup penuh karena cuaca yang tak bersahabat.

.

Seseorang yang duduk di bangku depan, terlihat melambaikan tangannya. Seseorang yang terlihat tinggi, dengan syal merah yang membuatnya terlihat bergaya. Sang wanita memperhatikan pria itu. Bingung. Awalnya Ia ingin tersenyum tetapi pikirannya masih dipenuhi keraguan, memalukan saja jika ternyata pria itu tak melambai padanya.  Pria itu menunjuk-nunjuk. Telunjuknya mengarah pada sang wanita. Tetapi sang wanita masih ragu, menolehlah Ia ke belakang, melihat jikalau sang pria menunjuk orang lain. Tidak ada. Nampaknya pria itu memang melambai pada sang wanita.

.

Sang wanita tersenyum. Berjalanlah Ia mendekati sang pria yang samar-samar terlihat dari balik jendela bus yang berembun. Ternyata lagi-lagi itulah dia, pria tampan dan tinggi dengan pakaiannya yang bergaya '50-an.
Sang wanita melambai padanya, mengisyaratkan perpisahan karena sang wanita tahu bahwa bus sudah penuh dan Ia harus menunggu bus yang berikutnya, atau berjalan pulang di tengah guyuran hujan.

.

Pria itu tersenyum. Diangkatnya jemari yang tadi Ia gunakan untuk menunjuk sang wanita. Perlahan Ia tempelkan telunjuknya pada kaca bus yang berembun. Satu-persatu ditorehkannya garis-garis yang membentuk suatu kata. Ia torehkan sedemikian rupa sehingga sang wanita bisa membaca tulisan tersebut dari luar jendela.

.

WALK?

.

Sang wanita tak bisa menahan lengkungan manis di wajahnya. Sejenak Ia terdiam dan menahan perasaan aneh yang dirasakannya. Wajahnya memerah dan terasa hangat, hangat sekali, mungkin sehangat hawa panas di dalam bus. Yang membuat kaca bus itu berembun.

No comments:

Post a Comment