Friday, July 5, 2013

Andai Saja

Sang wanita melihat ke arah jendela yang terbuka lebar di kelas dan menyadari betapa cuaca sedang tak berada dipihaknya. Musim hujan yang menandai pergantian musim semi ke musim panas sedang melanda. Rentetan hujan di bulan Juli. Hujan-hujan yang membuat sepatu sang wanita mengeluarkan bunyi-bunyi aneh ketika diinjak. Basah kuyup.

Hari itu nampaknya salah satunya.

"Adakah yang berencana untuk pulang ke asrama setelah ini?"

Sang pria tiba-tiba bertanya pada seisi kelas. Sang wanita tahu Ia akan pulang, tapi tak cukup berani untuk langsung menjawab pertanyaan yang tak terduga itu. Dengan suara pelan, sang wanita akhirnya memberanikan diri.

"Ya, aku akan pulang."

Dan nampaknya hanya sang wanita yang memiliki rencana yang sama dengan si pria.

Pria itu mendekati sang wanita dan mengajaknya untuk pulang naik taksi dengan membagi biaya taksi itu. Ah yang benar saja, perjalanan dengan bus dari kampus ke asrama hanya sekitar sepuluh menit, dan tak perlu membayar untuk itu. Sementara untuk membayar taksi, paling tidak satu lembar uang seribu yen akan diperlukan untuk satu kali perjalanan.

"Mungkin kita bisa menaiki bus kampus saja, kita tak perlu bayar untuk itu. Kupikir membayar taksi akan sedikit mahal."

Akhirnya berlarilah kedua anak manusia itu menuju tempat antrian bus kampus, melangkah dengan sangat cepat dibawah hujan yang mengguyur mereka dengan derasnya. Seperti yang diduga, antrian bus kampus sudah panjang sekali; nampaknya perjalanan mereka sia-sia.

Bus pertama datang, dan mereka tidak mendapat tempat sama sekali; tentu saja bus kampus sudah terisi sangat penuh bahkan sebelum mereka sempat melihat pintu bus itu terbuka.

Mau bagaimana lagi, sang wanita tak sanggup jika harus berjalan dengan sepatunya yang basah kuyup di tengah derasnya hujan selama empat puluh menit. Andai saja hari itu hanya gerimis, mungkin tak apa. Tetapi hujan hari itu sangatlah deras, Ia pun menyetujui untuk membayar sedikit mahal dengan menggunakan jasa angkutan umum yang tak sering dinaikinya itu. Taksi. Bersama dengan dua orang lainnya yang juga bersedia membagi biaya perjalanan.

Perjalanan yang hanya sebentar itu terasa begitu menyenangkan. Meski terdapat tiga orang lainnya di dalam mobil yang terasa sempit dan cukup lembap karena hujan, pikiran sang wanita selalu tertuju pada pria itu. Ia yang duduk di dekat jendela.

Andai saja perjalanan taksi itu bisa lebih lama, sang wanita tak akan ragu untuk membayar lebih, mungkin bahkan meninggalkan sedikit uang ekstra untuk si pengendara. Tetapi apa daya, perjalanan itu hanya berlangsung sekitar sepuluh menit, tidak lebih. Secepat itu.

Andai saja jarak antara kampus dan asrama lebih jauh lagi, sang wanita tak akan ragu untuk bersabar menahan lembapnya udara di dalam taksi, dan tetap tersenyum manis meski Ia duduk sendiri di samping si pengemudi. Tetapi mau bagaimana, jarak kampus dan asrama hanya sekitar dua setengah kilometer, tidak lebih. Sedekat itu.

Ketika turun dari kendaraan yang rasanya seperti kereta kencana, sang wanita menyadari betapa cepatnya Ia kembali ke realita. Hujan masih mengguyur mereka dengan derasnya, dan kini Ia berada tepat di depan gerbang asramanya.

.

Ah, andai saja waktu bisa dihentikan saat itu juga, sang wanita akan menikmati indahnya suasana di hadapannya. Tetapi yah, apalah yang bisa dilakukan manusia, meski dengan kekuatan asmara.

No comments:

Post a Comment